Sabtu, 05 Maret 2016

Potret Kehidupan di Bantaran Sungai Bengawan Solo

Pengertian Pembangunan
  • Shoemaker mengungkapkan Pengertian Pembangunan merupakan suatu jenis perubahan sosial dimana ide-ide baru diperkenalkan kepada suatu sistem sosial untuk menghasilkan pendapatan perkapita dan tingkat kehidupan yang lebih tinggi melalui metode produksi yang lebih modernisasi pada tingkat sistem sosial.
  • Pendapat Kleinjans mengenai definisi dari Pengertian Pembangunan yaitu suatu proses pencapaian pengetahuan dan keterampilan baru, perluasan wawasan manusia, tumbuhnya suatu kesadaran baru, meningkatnya semangat kemanusiaan dan suntikan kepercayaan diri.
  • Dari pengertian pembangunan yang diungkapkan para pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Pembangunan adalah suatu proses yang dilakukan oleh pemerintah setempat untuk melakukan  perubahan yang pastinya diharapkan menuju ke arah yang lebih baik.
  • Menurut definisi-definisi diatas, muculah sebuah pertanyaan yang harus kita jawab bersama yaitu, "Bagaimana pembangunan kota Solo?"
  • Dan untuk menjawab pertanyaan tersebut kelompok kami telah melakukan observasi ke sebuah wilayah di Combong RT 05 RW 26, Kadipiro, Banjarsari.

Dalam mata kuliah Teori Pembangunan kali ini kelompok kami sedang mencoba mencari tahu bagaimanakah kehidupan masyarakat Surakarta yang menempati wilayah Combong RT 05 RW 26 Kelurahan Kadipiro. Tepatnya masyarakat yang memiliki tempat tinggal di bantaran sungaiBengawan Solo. Kali ini kelompok kami telah berhasil mewawancarai salah seorang warga Combong RT 05 RW 26 yang bernama Ibu Endang. Beliau mengaku sudah lama tinggal disana (bantaran sungai) tepatnya sejak tahun 1998. Tempat berdirinya rumah Ibu Endang ini sangat memprihatinkan dengan posisi tanah  yang tidak seimbang (miring) dan di bagian belakang rumah Ibu  Endang berhadapan langsung dengan derasnya arus sungai tersebut.
Amel (kiri) meawancarai Ibu Endang (kanan)

Keadaan di dalam rumah Ibu Endang 

Bagian belakang rumah Ibu Endang

Tanggul sederhana yang dibuat oleh keluarga untuk mencegah air masuk kedalam rumah ketika banjir
Namun ada beberapa hal yang masih mengganjal daam hati kami yaitu bagaimana bisa masyarakat yang berada di daerah tersebut bisa memperoleh sertifikat kepemilikan tabah serta bangunan mengingat rumah Ibu Endang berada di Garis Sempadan Sungai (GSS) yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau. Menurut penuturan Ibu Endang, beliau rutin membayar  PBB sebesar kurang lebih Rp 60.000,- tiap tahunnya. Rumah Ibu  Endang bukanlah satu-satunya rumah yang berada di bantaran sungai Bengawan Solo melainkan satu dari sekian banyak rumah yang  berdiri disana. Dan ketika memauki musim penghujan seperto saat ini, Ibu Endang dan warga lainnya yg tinggal  di bantaran sungai tidak bisa mengelak dari bahaya bencana banjir. Rumah Ibu Endang sendiri pernah  menjadi korban dari banjiryang melanda daerah tersebut,yakni bagian belakang rumah yang mengalami kerusakan yang parah yaitu hanyut terbawa deasnya aliran ssungai Bengawan Solo, tetapi saat ini rumah Ibu Endang sudah direnovasi dan di belakang rumahnya sudah ada tanggul sederhana yang terbuat dari karung yang diisi pasir.













Di atas merupakan surat-surat dimiliki oleh Ibu Endang yang menunjukkan bahwa ia adalah warga legal di dusun Combong RT 05 RW 26, Kadipiron Banjarsari.


Infrastruktur

Untuk infrastruktur di sana cukup memadai seperti akses jalan, pendidikan, ketersediaan listrik dan air, serta tidak lupa yaitu kebersihan.Mari kita  ulas satu persatu mengenai infrastruktur yg ada di dusun Combong :

  • Untuk jalan raya sendiri disana terdapat sebuah jalan raya yaitu Jl. Samudra Pasai yang menghubungkan 3 buah dusun di daerah tersebut yang salah satunya adalah dusun Combong. Jalan Samusra Pasai yang dibangun oleh pemerintah mempermudah akses masyarakat setempat untuk pergi bekerja, bersekolah, maupun kegiatan lainnya.
  • Kemudian untuk kebutuhan listrik warga setempat maih menggunakan PLN yang pastinya setiap bulannya mereka harus membayar untuk bisa menikmati listrik. Dan untuk kebutuhan air masyarakat setempat pada umumnya masih menggunakan pompa dan sumur, karena kebanyakan dari mereka merasa keberatan jika harus memakai air PDAM yang biayanya cukup mahal  bagi mereka.
  • Tingkat kesehatan di desa Combbong sangat memprihatinkan, karena kebiasaan buruk warga setempat yang membuang sampah ke sungai dan menimbulkan berbagai masalah seperti banjir, penyakit Leptospirosis, DBD, dll. Baru-baru ini saja ada seorang warga yang meninggal akibat terkena penyakit Leptospirosis, yaitu penyakit yang ditularkan oleh hewan (tikus) melalui air kencingnya yang kemudian warga tersebut memakan makanan yang tercemar bakteri Leptospira sp.
  • Tingkat pendidikan di desa Combong masih tergolong rendah, karena mayoritas warga desa Combong  bekerja sebagai buruh.
  • Untuk administrasi kepemilikan tanah di desa Combong kebanyakan adalah Sertifikat Hak Milik, sehingga tanah tersebut resmi dan setiap tahunnya mereka membayar PBB. Misalnya narasumber kami Ibu Endang yang setiap tahunnya membayar Rp 60.000,-
    Keadaan bangunan rumah yang miring akibat tanah yg tidak rata 

    Masyarakat setempat masih menggunakan pompa air manual untuk memperoleh air
    Keadaan tempat pembuangan sampah yang sangat dekat dengan sungai dan pemukiman warga


    Inilah sarang bertumbunya berbagai macam penyakit

    Dampak Positif dan Negatif dari Pembangunan

    Jika melihat dari beberapa paparan diatas mengenai keadaan yang ada di desa Combong, kelompok kami berhasil menyimpulkan beberapa dampak dari adanya pembangunan baik itu yang bersifat positif maupun negampak natif. berikut kami akan memaparkan dampak-dampaknya :
    1. Dampak Negatif
      • Lahan terbuka berubah menjadi lahan tertutup.
      • Area resapan air berkurang.
      • Lahan Pertanian berkurang.
         2.  Dampak Positif
      • Derah yang tadinya sepi menjadi ramai.
      • Pendapatan daerah melalui PBB meningkat.
      • Harga tanah menjadi tinggi.
      • Lahan menjadi areal yang tertata rapi.
      • terbukanya lapangan pekerjan.
      • Pembangunan sarana dan prasarana baru.
      • Terbentuknya jaringan transportasi yang baru.
    Cara Mengurangi Dampak Negatif dari Pembangunan

    Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengurangi atau bahkan menanggulangi dampak negatif dari adanya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah yaitu salah satunya membuka lahan terbuka hijau yang baru, sehingga bisa mengrangi polusi. Menanam pohon di sekitar rumah juga bisa menjadi solusi simpel untuk mengurangi polusi. Kemudian menumbuhkan rasa cinta terhadp lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan serta menumbuhkan kesadaran untuk tidak mendirikan bangunan maupun rumah di daerah bantaran sungai karena bisa menimbulkan berbagai masalah dikemudian hari.

    13 komentar:

    1. Ternyata seperi itu ya kehidupan di bantaran sungai

      BalasHapus
    2. Nama ibunya bagus.. Ibu Endang . Kasian yah warga2 di sana. Sangat memperihatinkan. Semoga pemrintah segera melakukan tindakan cepat .

      BalasHapus
    3. Yah mungkin dengan adanya artikel ini pemerintah bisa segera bertindak...

      BalasHapus
    4. Wahh ... Menarik bacaan nya . Menambah pengetahuan saya ttg kehidupan di pinggir sungai

      BalasHapus
    5. Waa sangat bermanfaat apalagi bisa membuka mata kalo ternyata di kota solo masih ada warga yang memperhatinkan

      BalasHapus
    6. Wah miris ya melihatnya, yg seharusnya menjadi lahan terbuka malah didirikan bangunan spt itu

      BalasHapus
    7. cukup bagus dan menarik, tp seharusnya informasi kondisi yg seperti ini harus diperhatikan oleh petinggi" dan warga solo sekitarnya untuk bersama membangun solusi bersama untuk tempat tinggal mereka, kesehatan , pedidikan dan pekerjaan yg layak

      BalasHapus
    8. Bagus..nambah wawasan...ternyata ada kawasan itu di wilayah kota solo,mungkin perlu perhatian lebih dari pemkot solo,penyuluhan tentang masalah kesehatan perlu di tingkatkan

      BalasHapus
    9. Kurang bagus kalau cuman penelitian daripada gitu mending bantu mungkin lebih bermanfaat daripada cuman kepo nanyain kondisinya di situ kalau udah tau gitu cuman di publikasikan gini terus efek perubahanya apa disana?

      BalasHapus
    10. Bagus..nambah wawasan...ternyata ada kawasan itu di wilayah kota solo,mungkin perlu perhatian lebih dari pemkot solo,penyuluhan tentang masalah kesehatan perlu di tingkatkan

      BalasHapus
    11. Ternyata disolo masih ada warga yang kehidupannya sangat memprihatinkan, semoga pemerintah segera bertindak dan memperhatikan warga2 yang kurang mampu seperti ibu endang ini

      BalasHapus
    12. Pemerintah dalam pembangunan infrastruktur seharusnya tidak hanya mementingkan kota saja tapi pelosok pelosok bagian kota solo jg

      BalasHapus